Kawan, semua ini bukan tentang masing-masing kita ini adalah siapa. Tapi siapakah kita seutuhnya. Maksud saya, kita ini telah menetapkan banyak cerita yang telah menjadi cerita-cerita. Cerita yang sama2 kita punyai. Tak pandang apa, siapa, apalagi kedudukanmu apa.
Satu, dua, tiga tahun belakangan, saya rasa itu semua lebih dari cukup kita memahami kalau kita itu ya kita. Bukan kamu, bukan aku lagi.
Hei, kita masing-masing ini dulunya apa? Seperti kerikil-kerikil kecil saja, kan? Nah, tiga tahun itu bukannya cukup bahkan sangat cukup untuk menyatukan semuanya? Menjadikannya batu besar yang kokoh, kuat, hebat, dan tahan banting?
Hei, semua ini cobaan. Kita semua amat tahu kalau cobaan itu sebenarnya amat manis kalau kita mau memahaminya baik2. Tuhan tidak pernah menciptakan yang bahkan bencana sekalipun itu ada manfaatnya. Semua berbuah kebaikan.
Kawan, masih banyak hari-hari yang sedang duduk manis menunggu bahagia kita nantinya. Mau membiarkan dan memberikan kesempatan sedih itu tertinggal terus? Tidak, kan?
Baik. Kita semua salah. Tidak ada yang benar. Karena semua membenarkan diri. Pun termasuk saya juga. Tapi, kawan. Pahamilah, pahamilah ini adalah cobaan yang indahnya bukan main kalau kita mau memahaminya. Mengambil hikmah saat diam2 masalah datang tanpa permisi.
Seperti sekarang ini yang menjadikan kita kembali ke masing2 lagi. Bukan "kita" lagi. Apa mau seperti ini terus?
Bukannya kita lebih baik kalau menjadi "kita" daripada masing-masing diri sendiri?
jujur, mata saya berkaca-kaca menulis ini. Sambil mengingat keutuhan kita di tahun-tahun yang terlewat. Yang dengan rela meninggalkan banyak cerita-cerita. Hey! Bukan hanya satu cerita, kan?
Kawan, masing-masing kita adalah yang terbaik. Dan akan lebih baik lagi jika kita benar-benar menjadi "KITA"
Tampilkan postingan dengan label Happyly. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Happyly. Tampilkan semua postingan
Selasa, 24 Juni 2014
Untuk Anta...
Ketika mendengar keluhan orang tua santri tentang penyakit anaknya, Anta Quryautama Syah. Lama kami tahu, Anta menderita kelainan syaraf di kepalanya. Penyakit ini akan semakin parah jika Anta semakin banyak pikiran. Selain itu, ada tumor di hidungnya.
Pantas saja. Selama ini Anta kurang bisa menyerap pelajaran yang diberikan. Sangattt sulit diperintah untuk menulis. Sangattt sulit mencerna huruf-huruf hijaiyyah. Sangattt sulit menghafal hafalannya.
Saya pernah mencoba menerapkan beberapa metode pembelajaran yang saya peroleh di bangku kuliah. Yaitu metode pendekatan individual dan metode menyenangkan yaitu metode dengan menghubungkan huruf hijaiyyah dengan benda-benda yang mudah diingat. Ya, memadukan metode pembelajaran agama dengan pembelajaran umum.
Anta sangat butuh tambahan motivasi. Dan Alhamdulillah, Anta sudah bisa sedikit demi sedikit mencerna huruf dan mulai bisa meyebutkannya dengan penyebutan yang baik. Tetapi masih sangat sulit menulis dan menghafal hafalannya.
Sekarang, Anta sudah Iqra' 4. Dan ibunya baru beberapa hari yang lalu memberi tahu penyakit Anta. Kami syok, separah itu ternyata. Mata saya berkaca-kaca. Malu menangis di hadapan puluhan santriku. Apalagi ketika ibunya berkata, "Dokter memprediksikan umurnya hanya belasan tahun." Saya hanya bisa mengelus dada dalam-dalam sembari mengusap air mata yang tergenang.
Kemarin, Anta sudah mulai menghafal bacaan-bacaan shalat. Hafalan doa-doa hariannya masih beberapa. Dia yang meminta melangkahi hafalannya langsung ke bacaan sholat. "Saya menghafal itu, Kak!" Dia berseru. Dan kami mengiyakan. Daripada tidak mau menghafal, kan? Meski terbata-bata dan lebih banyak dibimbing saat menghafal bacaan doa i'tidal, setidaknya sekarang semangatnya tumbuh beberapa derajat dari sebelumnya.
Dan ini menjadi PR untuk kami, guru-gurunya. Insyaallh berberkah.
Untuk Anta, semoga Allah memberikan pemahaman yang baik dan kesembuhan untukmu, Dek. Aamiin.
Pantas saja. Selama ini Anta kurang bisa menyerap pelajaran yang diberikan. Sangattt sulit diperintah untuk menulis. Sangattt sulit mencerna huruf-huruf hijaiyyah. Sangattt sulit menghafal hafalannya.
Saya pernah mencoba menerapkan beberapa metode pembelajaran yang saya peroleh di bangku kuliah. Yaitu metode pendekatan individual dan metode menyenangkan yaitu metode dengan menghubungkan huruf hijaiyyah dengan benda-benda yang mudah diingat. Ya, memadukan metode pembelajaran agama dengan pembelajaran umum.
Anta sangat butuh tambahan motivasi. Dan Alhamdulillah, Anta sudah bisa sedikit demi sedikit mencerna huruf dan mulai bisa meyebutkannya dengan penyebutan yang baik. Tetapi masih sangat sulit menulis dan menghafal hafalannya.
Sekarang, Anta sudah Iqra' 4. Dan ibunya baru beberapa hari yang lalu memberi tahu penyakit Anta. Kami syok, separah itu ternyata. Mata saya berkaca-kaca. Malu menangis di hadapan puluhan santriku. Apalagi ketika ibunya berkata, "Dokter memprediksikan umurnya hanya belasan tahun." Saya hanya bisa mengelus dada dalam-dalam sembari mengusap air mata yang tergenang.
Kemarin, Anta sudah mulai menghafal bacaan-bacaan shalat. Hafalan doa-doa hariannya masih beberapa. Dia yang meminta melangkahi hafalannya langsung ke bacaan sholat. "Saya menghafal itu, Kak!" Dia berseru. Dan kami mengiyakan. Daripada tidak mau menghafal, kan? Meski terbata-bata dan lebih banyak dibimbing saat menghafal bacaan doa i'tidal, setidaknya sekarang semangatnya tumbuh beberapa derajat dari sebelumnya.
Dan ini menjadi PR untuk kami, guru-gurunya. Insyaallh berberkah.
Untuk Anta, semoga Allah memberikan pemahaman yang baik dan kesembuhan untukmu, Dek. Aamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)